Karya : Mery Herdianty
Tadi pagi
ibu menasehatiku
sambil menepuk pundakku ibu berkata:
"Yah, mereka tak lagi pamer bambu runcing,
tetapi berperang dengan orasi-orasi yang mangatasnamakan
Kemakmuran..
Keadilan..
bahkan Kedamaian..
Sungguh tragis !"
Pergiah... pergi!
Setelah tangan ini kau ciumi
mungkin ini pelukan penghabisan
ingat!
Jangan melongok kebelakang.
Kejarlah cita-citamu
Aku mengangguk, meski aku kurang mengerti
karna ibu akan marah besar
Jangan takut, ibu!
Jangan mau dicemoohkan
Jangan mau disepelekan orang
Anakmu akan menjadi presiden!
Bom waktu menghancurkan keluh kesah mimpi yang merangas
Butiran keringan bercucuran menjadi mutiara bahkan berlian
anakmu akan menjadi presiden!
Ibu memberiku pelajaran keadilan, bila aku berlaku curang
Ibu tak takut cacian orang, kesana kemari menyelusuri sudut jalan
mengais rezeki..
demi sesuap nasi
Aku tak malu..
"Yah, Sekarang kita sedang tergusur dari kemakmuran!"
Jangan takut, Ibu!
Engkau kenyang dengan garam kehidupan
Doakan anakmu
Anakmu akan menjadi Presiden!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar